Rapor Pendidikan Ma’had Cermin Ikhtiar, Amanah, dan Perjalanan Tarbiyah

Deli Hermanto

3 days ago • 10

Foto: Dok. Istimewa/Deli Hermanto

Rapor Pendidikan Ma’had

Cermin Ikhtiar, Amanah, dan Perjalanan Tarbiyah

Oleh: Abu Abdillah, Lc., S.Pd.

Mudir ‘Ām Ma’had Tahfidzul Qur’an Zaid bin Tsabit Kota Payakumbuh


Di antara proses terpenting dalam pendidikan adalah adanya rapor pendidikan. Rapor bukan sekadar pelengkap administrasi, melainkan bagian integral dari evaluasi tarbiyah yang berfungsi menilai, menimbang, dan mengarahkan perjalanan pendidikan seorang santri. Melalui rapor, proses belajar yang panjang, penuh ikhtiar dan pengorbanan, dicermati dengan lebih jernih dan terukur.

Rapor pendidikan memiliki banyak faidah dan kegunaan. Ia menjadi sarana untuk melihat perkembangan belajar santri, mengetahui apakah terdapat peningkatan atau justru penurunan, serta menjadi bahan evaluasi yang objektif dan terukur dalam rangka perbaikan yang berkelanjutan. Evaluasi ini tidak hanya ditujukan kepada peserta didik, tetapi juga kepada guru, kurikulum, metode pembelajaran, serta keterlibatan orang tua dalam mendampingi pendidikan anak.

Bagi santri, rapor adalah cermin untuk melihat capaian, perkembangan, dan kekurangan diri. Bagi guru, rapor menjadi bahan muhasabah terhadap kurikulum, metode ajar, serta beban pembelajaran yang diberikan. Sementara bagi orang tua, rapor menjadi alat evaluasi untuk menilai perkembangan anak sekaligus penguat sinergi antara pendidikan di rumah dan pendidikan di ma’had.


Struktur Rapor Pendidikan Ma’had

Rapor pendidikan santri di Ma’had Tahfidzul Qur’an Zaid bin Tsabit terdiri dari dua jenis rapor, yaitu Rapor Ma’had dan Rapor Pembelajaran Kesetaraan (PKBM). Keduanya saling melengkapi dalam menggambarkan perkembangan santri secara utuh, baik dari sisi keilmuan, adab, maupun keterampilan secara terpadu.


Rapor Ma’had

Rapor Ma’had berisi laporan hasil belajar khas ma’had dan tahfidz. Di dalamnya tercantum penilaian Al-Qur’an yang meliputi tahap tamhīd dan tilawah bagi kelas tilawah, setoran hafalan baru, setoran hafalan lama, serta penilaian Tahsin yang mencakup aspek teori dan praktik. Penilaian ini juga dilengkapi dengan laporan tilawah di rumah, kerja sama orang tua, serta penilaian adab santri dalam proses pembelajaran dan keseharian.

Dari sisi pencapaian hafalan, yang dinilai adalah capaian hafalan secara keseluruhan, ujian tasmi‘ per-rubu‘ dan per-juz, serta ujian semester yang dilaksanakan dalam bentuk ikhtibar. Seluruh penilaian tersebut dilengkapi dengan bayanat, berupa penjelasan, pesan, dan nasihat yang bersifat tarbawi sebagai penguat dan pengarahan bagi santri.

Selain itu, Rapor Ma’had juga memuat laporan nilai pembelajaran agama (Maddah Diniyyah) yang meliputi mata pelajaran Aqidah Islamiyyah, Fikih Islami, Sirah Nabawiyyah, Dzikir dan Doa, Adab, serta Bahasa Arab. Penilaian adab hadir di seluruh mata pelajaran, dan rapor ditutup dengan bayānāt berupa pesan, nasihat, dan doa bagi santri sebagai peneguhan akhir evaluasi.


Rapor Kesetaraan (PKBM)

Adapun Rapor Kesetaraan atau PKBM disusun berdasarkan empat komponen utama, yaitu kompetensi unggulan, kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan.

Kompetensi unggulan meliputi Al-Qur’an—berupa capaian hafalan, Tahsin, dan Tajwid—serta Bahasa Arab, baik teori maupun praktik. Kompetensi sikap terdiri dari kompetensi spiritual dan sosial yang mencerminkan kepribadian dan akhlak santri dalam keseharian belajar dan bermasyarakat.

Kompetensi pengetahuan meliputi mata pelajaran yang dipelajari, seperti Pendidikan Agama, Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sementara itu, kompetensi keterampilan mencakup pengembangan diri, olahraga, dan muatan lokal seperti hafalan dzikir dan doa, kegiatan mabit, sepak bola, serta praktik ibadah. Rapor kesetaraan ini juga ditutup dengan keterangan berupa nasihat, pesan, dan doa dari guru.

Istilah tinggal kelas tetap ada dan dipertahankan sebagai bagian dari konsep Rapor Ma’had, sebagai sarana pembelajaran dan pengulangan apabila santri dinilai belum layak untuk dinaikkan. Demikian pula dalam pembelajaran agama (Maddah Diniyyah), istilah nilai angka merah tetap digunakan sebagai standar penilaian. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan tidak dipaksakan apabila santri memang belum layak diberikan nilai standar atau tuntas.


Demikianlah gambaran rapor pendidikan santri di Ma’had Tahfidzul Qur’an Zaid bin Tsabit. Rapor pada hakikatnya bukan sekadar deretan angka dan nilai, tetapi merupakan buah dari proses pendidikan yang panjang. Ia adalah hasil dari ikhtiar santri, doa dan tawakal, kejujuran serta amanah guru dalam menilai, dan kebijaksanaan dalam menetapkan hasil.

Hal yang menarik dalam rapor santri adalah bahwa Al-Qur’an dan Bahasa Arab menjadi program unggulan, serta nilai adab memiliki porsi yang sangat besar, bahkan hadir di setiap mata pelajaran. Selain itu, terdapat pula penilaian terhadap kerja sama orang tua, karena pendidikan di ma’had dibangun di atas konsep pendidikan berbasis kolaborasi yang berkesinambungan.

Pada saat pengambilan rapor, kedua orang tua wajib hadir. Momen ini sekaligus menjadi ruang diskusi pendidikan antara orang tua, guru kelas, dan pihak ma’had, guna menyamakan visi serta langkah pendidikan anak ke depan.

Semoga rapor pendidikan ini menjadi sarana muhasabah, motivasi, dan penguat langkah dalam menapaki jalan ilmu dan amal. Semoga Allah memberkahi setiap usaha kecil dalam proses tarbiyah ini dan menjadikannya wasilah lahirnya generasi Qur’ani yang berilmu, beradab, dan bertakwa.

Ditulis waktu diha di Sudut Rumah Guru Kampus Biru

Bersandarkan Sofa Ungu tatjala langit cerah dan biru 

Mari Kita didik generasi supaya masa depan mereka tidak kelabu

Dan kita tidak terseret kedalam neraka yang bahan bakarnya mabusia dan batu

Payakumbuh, Ahad, 08 Februari 2026

Pukul 09.40 WIB


Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!