Generasi Rabbānī bil-Qur’ān wa Sunnatin Nabī
Arah Tarbiyah dan Manhaj Pendidikan Ma’had
Oleh: Ust. Abu Abdillah, Lc., S.Pd.
Mudir ‘Ām Ma’had Tahfidzul Qur’an Zaid bin Tsabit Kota Payakumbuh
Generasi Rabbānī bil-Qur’ān wa Sunnatin Nabī bukan sekadar rangkaian kata dan bukan pula hiasan bahasa. Ia adalah slogan ma’had yang lahir dari perenungan yang mendalam, musyawarah yang serius, serta pertimbangan yang panjang. Dari sekian banyak ide dan usulan, kalimat inilah yang akhirnya dipilih—sebuah pilihan yang diusulkan oleh Mudir Ma’had, Ust. Sandi Pratama, S.Pd., hafizhahullāh—karena mengandung arah yang jelas, ruh perjuangan yang kuat, serta tujuan pendidikan yang lurus dan mendasar. Slogan ini bukan sekadar identitas lembaga, melainkan janji moral di hadapan Allah terhadap amanah generasi yang sedang dan akan dibina.
Kalimat ini senantiasa menghiasi setiap video, flyer, dan spanduk ma’had. Namun hakikatnya, ia bukan sekadar slogan visual. Ia adalah identitas manhaj, kompas tarbiyah, dan ruh perjuangan yang ingin dihidupkan dalam setiap denyut pendidikan di ma’had. Ia menjadi pengingat bahwa pendidikan di ma’had ini bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan proses pembentukan manusia seutuhnya: manusia yang terikat dengan Rabb-nya, berjalan di atas wahyu, dan meneladani Nabi-Nya ﷺ. Karena itu, setiap kurikulum, metode, dan kebijakan pendidikan harus tunduk dan selaras dengan makna slogan ini.
Makna Generasi: Harapan Umat di Masa Pendidikan
Berbicara tentang generasi, pada hakikatnya adalah berbicara tentang tunas-tunas muda harapan umat—anak-anak yang sedang berada pada fase pembentukan, fase pendidikan, dan fase penanaman nilai. Pada fase inilah fondasi iman, ilmu, adab, dan kepribadian ditanamkan secara mendasar. Apa yang ditanam hari ini akan menentukan arah perjalanan mereka di masa depan, bahkan menentukan wajah umat pada masa yang akan datang.
Menurut KBBI, generasi (nomina) memiliki beberapa makna, di antaranya: sekelompok orang yang hidup pada masa yang sama, dengan rentang usia yang relatif berdekatan, seperti generasi muda dan generasi tua.
Namun Islam memandang generasi dengan perspektif yang jauh lebih dalam, lebih menyeluruh, dan lebih bertanggung jawab. Dalam konteks pembahasan ini, yang dimaksud adalah generasi emas, yaitu generasi anak-anak, generasi awal yang sedang dibentuk dan kelak akan menentukan wajah umat di masa depan. Jika generasi ini dibina dengan benar, maka kebaikan akan mengalir panjang lintas zaman. Sebaliknya, jika diabaikan, kerusakan akan berlanjut dan diwariskan. Sejarah umat menjadi saksi bahwa kejayaan dan kehancuran selalu bermula dari kualitas generasi.
Makna Generasi dalam Perspektif Islam
Dalam Islam, generasi bukan sekadar urutan usia atau perbedaan zaman. Generasi berkaitan erat dengan keimanan, ilmu, amal, dan manhaj hidup. Karena itu, pembinaan generasi tidak dapat dilepaskan dari akidah yang lurus dan tuntunan wahyu.
Al-Qur’an dan Sunnah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap penyiapan generasi, agar mereka tumbuh menjadi generasi yang beraqidah benar, beriman kuat, berilmu benar, beribadah benar sesuai Sunnah, berakhlak mulia, beradab Islami, serta mampu memikul amanah agama.
Allah ﷻ melarang kaum beriman meninggalkan keturunan yang lemah—baik lemah iman, lemah ilmu, maupun lemah akhlak. Inilah amanah besar yang wajib dipersiapkan, dibina, dan dijaga dengan penuh tanggung jawab dan rasa takut kepada Allah.
Sebagaimana Allah ﷻ jelaskan dalam surat An-Nisā’ ayat 9:
وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدًا
Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
Ayat ini menjadi fondasi aqidah bagi seluruh konsep pendidikan generasi dalam Islam. Ayat ini menegaskan bahwa pendidikan generasi adalah tanggung jawab keimanan. Rasa takut terhadap masa depan anak menuntut kita untuk mendidik mereka dengan cara yang benar, jujur, dan bertakwa—bukan dengan kelalaian, apalagi penyimpangan dari tuntunan wahyu.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan, ayat ini merupakan peringatan keras dan nasihat mendalam bagi siapa saja yang mengurus urusan anak-anak, generasi, dan masa depan umat.
Makna dzurriyyatan dhi‘āfā mencakup: lemah iman dan akidah, lemah mental, lemah ibadah, lemah fisik, lemah ekonomi, serta lemah perlindungan dan kemampuan membela diri.
Allah ﷻ mengingatkan kita semua akan bahaya generasi lemah di masa mendatang. Dari sinilah lahir kewajiban moral dan syar‘i untuk menjaga, membina, dan menguatkan generasi. Maka tugas pendidikan adalah mengubah kelemahan menjadi kekuatan dengan iman dan ilmu.
Generasi adalah amanah besar dan sekaligus estafet perjuangan: penerus risalah, pewaris nilai, dan penentu masa depan umat. Jika satu generasi rusak, kerusakan itu akan menjalar dan sulit dihentikan. Namun jika satu generasi dibina dengan benar, ia akan menjadi sebab tegaknya kebaikan dalam jangka panjang.
Karena itu, pendidikan bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk hari esok dan generasi setelahnya. Pendidikan adalah investasi akhirat yang buahnya sering kali baru dipetik setelah pendidiknya tiada. Kegagalan mendidik generasi pada hakikatnya adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah umat.
Makna Rabbānī: Orientasi Hidup kepada Allah
Kata rabbānī adalah nisbah kepada Rabb—salah satu nama Allah—yang bermakna Rabb Yang Maha Mencipta, Maha Memelihara, Maha Mengatur, dan Maha Mendidik.
Secara istilah syar‘i, rabbānī adalah hamba Allah yang berilmu, beramal, dan mendidik dengan ilmu, yang seluruh orientasi hidupnya tertuju kepada Allah Ta‘ālā. Ia tidak berhenti pada ilmu semata, tetapi mengamalkan ilmu, mengajarkan ilmu, dan membina manusia secara bertahap dengan kesabaran dan hikmah. Dengan demikian, rabbānī adalah identitas pendidik dan peserta didik sekaligus.
Allah ﷻ menyebutkan sifat rabbānī dalam surat Āli ‘Imrān ayat 79:
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحُكْمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا۟ عِبَادًا لِّى مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
Artinya: “Tidak wajar bagi seorang manusia bahwa Allah memberikan kepadanya Kitab, hikmah, dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, ‘Jadilah kalian penyembahku selain Allah.’ Akan tetapi (dia berkata), ‘Jadilah kalian orang-orang rabbānī, karena kalian selalu mengajarkan Kitab dan karena kalian terus mempelajarinya.’”
Di antara hikmah ayat ini adalah bahwa rabbānī bukan sekadar status keilmuan, tetapi peran tarbiyah. Ilmu yang tidak melahirkan pendidikan, keteladanan, dan pembinaan umat bukanlah sifat rabbānī. Generasi rabbānī lahir dari pengajaran dan pembelajaran yang istiqamah, berkesinambungan, dan berorientasi akhirat. Ayat ini sekaligus menolak model pendidikan yang melahirkan kesombongan intelektual.
Bil-Qur’ān wa Sunnatin Nabī: Wahyu sebagai Sumber Pendidikan
Inilah sumber pendidikan yang sesungguhnya: wahyu—bukan akal semata, bukan filsafat, dan bukan hasil karya manusia. Akal hanya berfungsi memahami wahyu, bukan menggantikannya; akal ditempatkan sebagai alat, bukan sumber hukum.
Allah ﷻ mewajibkan seluruh kaum beriman kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah:
فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ
Artinya: “Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul…” (QS. An-Nisā’: 59)
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah adalah hakim tertinggi dalam pendidikan dan tarbiyah. Perselisihan akan sirna apabila wahyu dijadikan rujukan utama.
Sebagaimana Allah ﷻ memerintahkan untuk mengikuti Rasul ﷺ:
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْ
Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka ambillah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Ḥasyr: 7)
Meniti Jalan Salaf: Jalan Orang-Orang Beriman
Allah ta’la berfirman :
وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ
Artinya: “Barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan ia dalam kesesatan yang dipilihnya.”(QS. An-Nisā’: 115)
Sabīl al-Mu’minīn adalah jalan para Sahabat dan Salaf, generasi terbaik umat ini. Manhaj Salaf bukan mazhab baru, tetapi cara memahami wahyu dan cara beragama yang benar.
Sunnah sebagai Penjaga dari Kesesatan
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي
Artinya: “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. Mālik no. 1594)
Dan Nabi ﷺ juga mewajibkan untuk mengikuti Sunnah beliau dan Sunnah Khulafā’ Rāsyidīn:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
Artinya: “Maka wajib atas kalian berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafā’ Rāsyidīn yang mendapat petunjuk sepeninggalku. Peganglah ia erat-erat.”
(HR. Abu Dāwud dan At-Tirmiżī)
Mengapa dengan Pemahaman Salaf
Mengapa harus dengan pemahaman Salaf? Karena Salaf adalah sebaik-baik generasi, hidup di zaman Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ adalah guru mereka.
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perkara ini ditegaskan pula oleh perkataan para Salaf:
اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ
“Ikutilah dan janganlah kalian berbuat bid‘ah, sungguh kalian telah dicukupkan.”
(Abdullah bin Mas‘ūd رضي الله عنه)
لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا
“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki generasi awalnya.”
(Imam Mālik رحمه الله)
اصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ، وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ
“Bersabarlah engkau di atas Sunnah, dan berhentilah di batasan tempat kaum Salaf berhenti.”
(Imam Al-Awzā‘ī رحمه الله)
Inilah rantai emas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama‘ah.
Penutup
Maka, tidak akan berhasil sebuah pendidikan, tidak akan kokoh sebuah tarbiyah, dan tidak akan lahir generasi yang kuat, kecuali dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai manhaj Salaf.
Generasi Rabbānī bil-Qur’ān wa Sunnatin Nabī adalah doa, harapan, dan komitmen—agar lahir generasi yang hidup untuk Allah, berjalan di atas wahyu, dan menjadi cahaya bagi umat.
Ditulis di sudut sekolah
Di kampus yang semoga Barokah
Semoga disini lahir generasi Robbani
Bilquran dan sunnatin nabi
Tarok, 10 Februari 2026
17.38 WIB