Rihlah Tarbawiyyah, Rihlah Sa‘īdah
Meniti Keseimbangan dalam Cahaya Al-Qur’an
Oleh: Abu Abdillah, Lc., S.Pd.
Mudir ‘Ām Ma’had Tahfizhul Qur’an Zaid bin Tsabit Kota Payakumbuh
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menciptakan kehidupan hamba-Nya dalam keseimbangan yang sempurna. Inilah salah satu bukti keagungan dan kesempurnaan Islam sebagai agama fitrah. Islam tidak mematikan kebutuhan jasmani demi ruhani, dan tidak pula menenggelamkan ruhani demi jasmani. Islam hadir menata kehidupan dengan proporsi yang tepat: ada waktu untuk bersungguh-sungguh, ada waktu untuk beristirahat; ada masa menahan diri, dan ada saat memberi ruang bagi jiwa untuk bernafas. Keseimbangan ini bukan berarti sama banyak, tetapi sesuai dengan kebutuhan dan hikmah yang Allah tetapkan. Keseimbangan inilah yang menjadi ruh dalam proses pendidikan para penghafal Al-Qur’an.
Dalam kerangka inilah Rihlah Tarbawiyyah menjadi salah satu program penting yang diselenggarakan oleh Ma’had Tahfizhul Qur’an Zaid bin Tsabit. Rihlah ini bukan sekadar perjalanan fisik, bukan pula hiburan tanpa makna, melainkan sebuah upaya tarbiyah yang menyeluruh untuk mewujudkan keseimbangan dalam aktivitas santri. Para santri yang setiap hari bergelut dengan hafalan dan muroja‘ah, disiplin dan kesungguhan, juga membutuhkan ruang untuk menyegarkan jiwa dan raga. Ada masa menghafal dan muroja‘ah dengan penuh kesungguhan, dan ada masa bermain, menjelajah, serta berinteraksi dengan alam—semuanya tetap berada dalam bingkai adab dan tuntunan syariat.
Melalui rihlah ini, kehidupan dijaga keseimbangannya, semangat yang mungkin mulai melemah ditumbuhkan kembali, dan keimanan dikuatkan melalui tadabbur alam serta perenungan terhadap ciptaan Allah.
Mengamalkan Firman Allah: Menyusuri Jalan-Jalan Kehidupan
Rihlah membawa santri melewati daerah yang berbeda-beda, menyaksikan bentang alam yang beragam, sekaligus menyadari bahwa bumi yang luas ini adalah karunia Allah yang dibentangkan bagi manusia untuk ditadabburi dan disyukuri. Perjalanan ini bukan tanpa arah, melainkan berjalan di atas petunjuk wahyu.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam Surat Nūḥ ayat 20:
لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا
“Agar kamu dapat menempuh jalan-jalan yang luas di bumi itu.”
Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penyebutan nikmat Allah kepada manusia. Allah menghamparkan bumi dan menjadikannya mudah dilalui, dengan jalan-jalan yang luas, lapang, dan beragam arah (subulan fijājan). Dengan kemudahan tersebut, manusia dapat berjalan dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mencari rezeki, melakukan perjalanan dan perdagangan, serta menunaikan berbagai keperluan hidup.
Makna fijājan menurut Ibnu Katsir adalah jalan-jalan yang terbuka dan lapang, tidak sempit dan tidak menyulitkan. Semua ini merupakan wujud rahmat dan kemudahan Allah bagi hamba-hamba-Nya. Maka rihlah tarbawiyyah menjadi bagian dari pemanfaatan nikmat tersebut—bukan dalam rangka lalai, tetapi sebagai jalan menuju kesadaran, penghayatan, dan rasa syukur.
Pada akhirnya, rihlah bukan sekadar menempuh jarak, melainkan sarana mengenali nikmat Allah.
Rihlah sebagai Sarana Tadabbur Alam
Islam memahami keterbatasan jiwa manusia, termasuk para santri. Oleh karena itu, lebih dari sekadar perjalanan, rihlah ini merupakan media tadabbur alam—sebuah madrasah terbuka yang mengajak santri merenungi ayat-ayat kauniyah Allah.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam Surat Al-Ghāsyiyah ayat 17–20:
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?
Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?
Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan?
Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?
Ibnu Katsir رحمه الله menegaskan bahwa ayat-ayat ini merupakan ajakan langsung untuk bertadabbur, menggunakan akal dan hati dalam merenungi ciptaan Allah sebagai dalil yang nyata atas keesaan, kekuasaan, dan kebesaran-Nya.
Unta dengan kekuatan dan kesabarannya; langit dengan keteraturan dan ketinggiannya tanpa tiang; gunung sebagai pasak penstabil bumi; serta bumi yang dihamparkan agar mudah ditempati—semuanya adalah ayat-ayat Allah yang berbicara kepada hati. Siapa yang merenung dengan jujur, akan sampai pada satu pengakuan yang pasti: bahwa semua ini adalah ciptaan Allah Yang Maha Esa.
Keseimbangan Waktu: Sa‘ah wa Sa‘ah
Rihlah tarbawiyyah juga berangkat dari prinsip agung yang diajarkan Rasulullah ﷺ, sebagaimana dalam hadits Hanzhalah radhiyallāhu ‘anhu, ketika Nabi ﷺ bersabda:
“وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً”
“Akan tetapi wahai Hanzhalah, sesaat dan sesaat.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Shahih Muslim, Kitab At-Taubah, hadits no. 2750, dan berstatus shahih.
Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya berselang-seling antara waktu ibadah, zikir, dan tafakkur dengan waktu untuk urusan dunia yang mubah, selama tidak terjatuh dalam maksiat. Inilah bentuk keseimbangan syariat dan penolakan terhadap sikap berlebih-lebihan.
Rihlah tarbawiyyah adalah pengejawantahan dari prinsip ini: rehat yang bernilai ibadah, dan kebahagiaan yang tetap terikat dengan adab.
Adab dalam Rihlah
Dalam setiap rihlah, para santri tetap ditarbiyah untuk menjaga adab-adab Islam, di antaranya:
- Senantiasa mengamalkan zikir-zikir, seperti zikir ketika naik kendaraan dan saat memasuki tempat yang baru.
- Menjaga adab Islam di mana pun berada, termasuk selama rihlah.
- Mendengarkan dan menaati arahan ustaz dan ustazah dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Inilah adab yang menjadikan rihlah bernilai ibadah, bukan sekadar berjalan tanpa arah.
Torang Sari Bulan: Ruang Rehat yang Terjaga
Torang Sari Bulan menjadi tujuan rihlah dan tempat favorit dalam setiap kegiatan. Tempat ini sangat direkomendasikan karena:
- Lokasinya tidak terlalu jauh dari Kota Payakumbuh, tempat ma’had berada.
- Pengelolaannya berlandaskan nilai-nilai syar‘i, terlihat dari aturan yang diterapkan: tidak merokok di area, tidak ada musik, tidak berpacaran, dan tidak ada ikhtilat di kolam renang.
- Kolam renang dan aula dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.
- Lingkungannya luas, asri, nyaman, serta memiliki lapangan terbuka yang mendukung aktivitas edukatif.
Lingkungan yang terjaga adalah bagian dari penjagaan iman santri.
Melalui kegiatan Rihlah Tarbawiyyah ini, diharapkan santri dan ustazah dapat rehat sejenak, menyegarkan jiwa dan raga, sekaligus menguatkan kembali semangat dan energi untuk melanjutkan perjalanan panjang sebagai penghafal Al-Qur’an. Semoga setiap langkah rihlah menjadi saksi kecintaan kita kepada Al-Qur’an.
Ditulis di kantor ustadz, sudut Masjid Birrul Waalidain
Bersama sahabat seperjuangan
Bersama mendidik generasi Qur’an
Semoga bersama, kita dikumpulkan di jinan.
Tarok, 10 Februari 2026 jam 14:14