Breaking

Berita Terbaru

Berita

Gedung Wakaf Al Hidayah MTQ Zaid Bin Tsabit Pusat Pembelajaran dan Pembinaan Pendidikan Al-Qur’an Sebuah Ikhtiar Wakaf Melahirkan Generasi Qurani

Gedung Wakaf Al Hidayah MTQ Zaid Bin TsabitPusat Pembelajaran dan Pembinaan Pendidikan Al-Qur’anSebuah Ikhtiar Wakaf Melahirkan Generasi QuraniOleh: Ust. Abu Abdillah, Lc., S.Pd.Alhamdulillāh, dengan izin dan pertolongan Allah Ta‘ālā, telah rampung pembangunan dan kini telah difungsikan Gedung Wakaf Al Hidayah di Ma’had Tahfidzul Qur’an Zaid bin Tsabit Kota Payakumbuh—sebuah ikhtiar dan wakaf mulia yang dihadirkan oleh sepasang suami istri, hamba Allah, dari salah satu kota di Sumatera Barat. Semoga Allah senantiasa menjaga dan memberkahi beliau berdua.Bangunan ini tidak sekadar berdiri dengan dinding dan atap; ia merupakan wakaf dan amanah umat. Semoga bangunan ini semakin kokoh dengan niat yang ikhlas, doa yang tulus, serta harapan agar cahaya ilmu terus menyala dan menerangi langkah generasi penerus umat.Dirancang sebagai pusat pembelajaran Al-Qur’an, bahasa Arab, dan ilmu syar‘i, gedung ini—insyā’ Allāh—diperuntukkan menampung hingga 120 santri penghafal Al-Qur’an khusus banat, yang merupakan jumlah maksimal santri banat Ma’had, selaras dengan lokasinya yang berada di area banat. Saat ini, 7 lokal telah difungsikan sebagai lokal Al-Qur’an, sementara ruang lainnya dimanfaatkan untuk kantor ustazah, ruang konseling, ruang UKS, ruang ujian Al-Qur’an, serta ruang program unggulan Al-Qur’an PKBM Zaid. Pembagian ruang-ruang ini diharapkan mendukung pendidikan holistik santri, meliputi aspek ruhiyah, akhlak, kesehatan, dan psikologis.Gedung Wakaf Al Hidayah dipersembahkan sebagai ruang aman, nyaman, dan penuh keberkahan bagi santri banat—tempat bertumbuhnya iman, adab, dan ilmu. Di sinilah ayat-ayat Allah dipelajari, ditilawahkan, dihafalkan, dimurāja‘ah, dipahami, dan diamalkan; di sinilah karakter muslimah dibina melalui tarbiyah yang utuh dan berkelanjutan, sehingga melahirkan muslimah shalihah yang sejati.Rasulullah ﷺ telah mengingatkan tentang amal yang pahalanya tidak terputus. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, dan (3) anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim, no. 1631)Wakaf ini—insyā’ Allāh—menjadi sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir. Setiap huruf Al-Qur’an yang dihafal, setiap ilmu yang diamalkan, dan setiap doa yang terpanjat dari lisan para santri, semoga tercatat sebagai kebaikan tanpa henti bagi para pewakafnya, serta menjadi ilmu yang bermanfaat yang diajarkan di lokal-lokal ini.Secara fisik, Gedung Wakaf Al Hidayah terletak di sebelah kiri pintu masuk, berada di area banat, dengan luas bangunan 12 × 33 meter (396 m²), dengan rincian:14 lokal Al-Qur’an, masing-masing berukuran 4 × 4 meterTeras depan dan belakang berukuran 2 × 31 meterTeras samping kiri dan kanan berukuran 1 × 12 meter6 ruang WC dan kamar mandiGedung ini dicat berwarna biru dan putih. Biru melambangkan warna utama MTQ Zaid—keteguhan, ketenangan, dan kedalaman visi. Putih melambangkan kesucian niat dan kejernihan tujuan. Penamaan “Al Hidayah” adalah doa yang hidup: semoga Allah senantiasa menganugerahkan hidayah dan petunjuk kepada para pewakaf, para pendidik, para santri, dan seluruh pihak yang terlibat dalam amal ini. Diharapkan pula, warna dan makna ini menginspirasi serta menjiwai seluruh aktivitas di dalamnya.Semoga Gedung Wakaf Al Hidayah benar-benar menjadi rumah cahaya, tempat tumbuhnya hafizhah-hafizhah yang berakhlak mulia, berilmu, dan berkontribusi bagi umat. Dan semoga Allah menerima amal wakaf ini dengan penerimaan terbaik, melipatgandakan pahalanya, serta menjadikannya sebab turunnya keberkahan yang luas. Āmīn.Ditulis di Sore AhadTatkala Matahari Mulai menuju tempat istirahatSemoga Allah senantiasa berkahi kita dan SehatSembari berbekal menuju Ramadhan yang sudah dekatSudut Kampus Biru, Sore Ahad 08 Februari 2026 Jam 17:20 

2 days ago | 9
Artikel

Pondok-Pondok Sederhana yang Penuh Perjuangan

Pondok-Pondok Sederhana yang Penuh PerjuanganOleh: Abu Abdillah, Lc., S.Pd.Mudir ‘Ām Ma’had Tahfidzul Qur’an Zaid bin Tsabit Kota PayakumbuhSaung Penghafal Al-Qur’an. Di sinilah para santri penghafal Al-Qur’an berjuang sejak kedatangan hingga waktu pulang, menambatkan cita dan harapan. Sebuah tempat sederhana yang menjadi saksi sekaligus medan perjuangan jiwa-jiwa muda dalam meniti jalan Al-Qur’an, ilmu, dan iman. Di ruang-ruang inilah mereka belajar membaca ayat demi ayat, menghafal dengan penuh kesungguhan, mengulang hafalan dengan kesabaran, serta menimba ilmu agama, pelajaran umum, dan bahasa Arab—semuanya berpadu dalam satu tarbiyah yang utuh. Apabila hari semakin siang dan cahaya matahari semakin terik, maka perjuangan pun semakin berat.Di tempat yang sama pula mereka melaksanakan shalat Dhuha, beristirahat, tidur siang, dan menyantap makan siang bersama. Segalanya sederhana, namun semoga dipenuhi keberkahan, insyaallah.Di sinilah lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema. Di sinilah pelajaran agama dijelaskan dengan penuh kelembutan, adab ditanamkan sejak dini, dan sunnah Nabi ﷺ dihidupkan dalam keseharian. Pendidikan yang berlangsung bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan karakter dan pembinaan jiwa, agar tumbuh generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.Pondok-pondok itu hanyalah ruangan kayu berukuran kurang lebih 4 × 4 meter dengan bangunan seadanya. Atapnya tidak terlalu tinggi, lantainya dari triplek, dan dindingnya pun tidak menutup seluruh sisi. Secara fisik, ia jauh dari kata ideal. Namun justru di balik keterbatasan itulah nilai perjuangan, kesabaran, dan keikhlasan ditempa.Alhamdulillāh, saung ini insyaallah akan berganti dengan lokal permanen pada beberapa masa ke depan sebagai ikhtiar menyiapkan fasilitas yang lebih layak dan nyaman. Saat ini, pembangunan masih dalam tahap penyelesaian struktur bangunan, insyaallah akan dilanjutkan dengan pemasangan keramik, pengecatan, dan pekerjaan lainnya. Semoga Allah Ta‘ala memudahkan seluruh prosesnya, serta mengirimkan hamba-hamba-Nya yang berinvestasi akhirat dan turut berjuang agar pembangunan ini segera selesai, rampung, dan dapat digunakan. Namun, pembangunan ini baru diperuntukkan bagi santri setingkat SD.Adapun santri tingkat TK tetap berjuang dan bertahan dengan kondisi seperti ini dalam waktu yang belum dapat dipastikan, hingga Allah Ta‘ala memberikan rezeki. Sembari berharap hadirnya hamba-hamba Allah yang berkenan menanamkan kebaikan dengan membangun gedung wakaf bagi santri TK penghafal Al-Qur’an.Ketika terik matahari menyengat, panasnya terasa luar biasa. Belum ada kipas angin yang mampu mendinginkan ruangan, sehingga peluh mengalir seiring lantunan hafalan. Ketika hujan turun, terkadang air merembes dari beberapa sisi atap, menguji keteguhan dan kesabaran. Namun semua itu tidak memadamkan semangat. Santri-santri tetap duduk bersila, menatap mushaf, dan melanjutkan hafalan—seolah ingin membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi keagungan cita-cita.Bukan hanya para santri yang berjuang. Para guru dan ustaz tentu memikul perjuangan yang lebih besar. Terlebih para ustazah, yang tetap harus berhijab sempurna di tengah suasana panas yang luar biasa, sambil membimbing, mengajar, dan membersamai para santri dengan penuh keikhlasan.Inilah potret perjuangan yang sesungguhnya: menghafal dan belajar dalam kondisi apa adanya, bersabar di tengah panas dan hujan, namun tetap teguh menapaki jalan Al-Qur’an. Dari pondok-pondok sederhana inilah, dengan izin Allah Ta‘ala, diharapkan lahir generasi Qur’ani—yang kuat imannya, luas ilmunya, dan kokoh akhlaknya—sebagai cahaya bagi umat dan peradaban.Semoga Allah Ta‘ala memudahkan urusan kita semua, memberikan kemudahan dalam menyelesaikan pembangunan lokal SD, serta melapangkan rezeki agar dapat terwujud pula pembangunan lokal TK penghafal Al-Qur’an.Ditulis di Sudut Kampus Qur’anTatkala Al-Qur’an ditilawahkan dan dihafalkanOleh santri-santri harapan masa depanSemoga Allah memudahkan seluruh urusan,menyelesaikan pembangunan Gedung Birrul Wālidayn,dan terbangun pula Gedung TK Penghafal Al-Qur’an.Tarok, 10 Februari 2026 | 09.20 WIB

2 days ago | 8
Artikel

Rihlah Tarbawiyyah, Rihlah Sa‘īdah Meniti Keseimbangan dalam Cahaya Al-Qur’an

Rihlah Tarbawiyyah, Rihlah Sa‘īdahMeniti Keseimbangan dalam Cahaya Al-Qur’anOleh: Abu Abdillah, Lc., S.Pd.Mudir ‘Ām Ma’had Tahfizhul Qur’an Zaid bin Tsabit Kota PayakumbuhAllah Subḥānahu wa Ta‘ālā menciptakan kehidupan hamba-Nya dalam keseimbangan yang sempurna. Inilah salah satu bukti keagungan dan kesempurnaan Islam sebagai agama fitrah. Islam tidak mematikan kebutuhan jasmani demi ruhani, dan tidak pula menenggelamkan ruhani demi jasmani. Islam hadir menata kehidupan dengan proporsi yang tepat: ada waktu untuk bersungguh-sungguh, ada waktu untuk beristirahat; ada masa menahan diri, dan ada saat memberi ruang bagi jiwa untuk bernafas. Keseimbangan ini bukan berarti sama banyak, tetapi sesuai dengan kebutuhan dan hikmah yang Allah tetapkan. Keseimbangan inilah yang menjadi ruh dalam proses pendidikan para penghafal Al-Qur’an.Dalam kerangka inilah Rihlah Tarbawiyyah menjadi salah satu program penting yang diselenggarakan oleh Ma’had Tahfizhul Qur’an Zaid bin Tsabit. Rihlah ini bukan sekadar perjalanan fisik, bukan pula hiburan tanpa makna, melainkan sebuah upaya tarbiyah yang menyeluruh untuk mewujudkan keseimbangan dalam aktivitas santri. Para santri yang setiap hari bergelut dengan hafalan dan muroja‘ah, disiplin dan kesungguhan, juga membutuhkan ruang untuk menyegarkan jiwa dan raga. Ada masa menghafal dan muroja‘ah dengan penuh kesungguhan, dan ada masa bermain, menjelajah, serta berinteraksi dengan alam—semuanya tetap berada dalam bingkai adab dan tuntunan syariat.Melalui rihlah ini, kehidupan dijaga keseimbangannya, semangat yang mungkin mulai melemah ditumbuhkan kembali, dan keimanan dikuatkan melalui tadabbur alam serta perenungan terhadap ciptaan Allah.Mengamalkan Firman Allah: Menyusuri Jalan-Jalan KehidupanRihlah membawa santri melewati daerah yang berbeda-beda, menyaksikan bentang alam yang beragam, sekaligus menyadari bahwa bumi yang luas ini adalah karunia Allah yang dibentangkan bagi manusia untuk ditadabburi dan disyukuri. Perjalanan ini bukan tanpa arah, melainkan berjalan di atas petunjuk wahyu.Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam Surat Nūḥ ayat 20:لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا“Agar kamu dapat menempuh jalan-jalan yang luas di bumi itu.”Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penyebutan nikmat Allah kepada manusia. Allah menghamparkan bumi dan menjadikannya mudah dilalui, dengan jalan-jalan yang luas, lapang, dan beragam arah (subulan fijājan). Dengan kemudahan tersebut, manusia dapat berjalan dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mencari rezeki, melakukan perjalanan dan perdagangan, serta menunaikan berbagai keperluan hidup.Makna fijājan menurut Ibnu Katsir adalah jalan-jalan yang terbuka dan lapang, tidak sempit dan tidak menyulitkan. Semua ini merupakan wujud rahmat dan kemudahan Allah bagi hamba-hamba-Nya. Maka rihlah tarbawiyyah menjadi bagian dari pemanfaatan nikmat tersebut—bukan dalam rangka lalai, tetapi sebagai jalan menuju kesadaran, penghayatan, dan rasa syukur.Pada akhirnya, rihlah bukan sekadar menempuh jarak, melainkan sarana mengenali nikmat Allah.Rihlah sebagai Sarana Tadabbur AlamIslam memahami keterbatasan jiwa manusia, termasuk para santri. Oleh karena itu, lebih dari sekadar perjalanan, rihlah ini merupakan media tadabbur alam—sebuah madrasah terbuka yang mengajak santri merenungi ayat-ayat kauniyah Allah.Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam Surat Al-Ghāsyiyah ayat 17–20:أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ ۝ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ ۝ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ ۝ وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْMaka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan?Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?Ibnu Katsir رحمه الله menegaskan bahwa ayat-ayat ini merupakan ajakan langsung untuk bertadabbur, menggunakan akal dan hati dalam merenungi ciptaan Allah sebagai dalil yang nyata atas keesaan, kekuasaan, dan kebesaran-Nya.Unta dengan kekuatan dan kesabarannya; langit dengan keteraturan dan ketinggiannya tanpa tiang; gunung sebagai pasak penstabil bumi; serta bumi yang dihamparkan agar mudah ditempati—semuanya adalah ayat-ayat Allah yang berbicara kepada hati. Siapa yang merenung dengan jujur, akan sampai pada satu pengakuan yang pasti: bahwa semua ini adalah ciptaan Allah Yang Maha Esa.Keseimbangan Waktu: Sa‘ah wa Sa‘ahRihlah tarbawiyyah juga berangkat dari prinsip agung yang diajarkan Rasulullah ﷺ, sebagaimana dalam hadits Hanzhalah radhiyallāhu ‘anhu, ketika Nabi ﷺ bersabda:“وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً”“Akan tetapi wahai Hanzhalah, sesaat dan sesaat.”Hadits ini diriwayatkan oleh Shahih Muslim, Kitab At-Taubah, hadits no. 2750, dan berstatus shahih.Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya berselang-seling antara waktu ibadah, zikir, dan tafakkur dengan waktu untuk urusan dunia yang mubah, selama tidak terjatuh dalam maksiat. Inilah bentuk keseimbangan syariat dan penolakan terhadap sikap berlebih-lebihan.Rihlah tarbawiyyah adalah pengejawantahan dari prinsip ini: rehat yang bernilai ibadah, dan kebahagiaan yang tetap terikat dengan adab.Adab dalam RihlahDalam setiap rihlah, para santri tetap ditarbiyah untuk menjaga adab-adab Islam, di antaranya:Senantiasa mengamalkan zikir-zikir, seperti zikir ketika naik kendaraan dan saat memasuki tempat yang baru.Menjaga adab Islam di mana pun berada, termasuk selama rihlah.Mendengarkan dan menaati arahan ustaz dan ustazah dalam seluruh rangkaian kegiatan.Inilah adab yang menjadikan rihlah bernilai ibadah, bukan sekadar berjalan tanpa arah.Torang Sari Bulan: Ruang Rehat yang TerjagaTorang Sari Bulan menjadi tujuan rihlah dan tempat favorit dalam setiap kegiatan. Tempat ini sangat direkomendasikan karena:Lokasinya tidak terlalu jauh dari Kota Payakumbuh, tempat ma’had berada.Pengelolaannya berlandaskan nilai-nilai syar‘i, terlihat dari aturan yang diterapkan: tidak merokok di area, tidak ada musik, tidak berpacaran, dan tidak ada ikhtilat di kolam renang.Kolam renang dan aula dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.Lingkungannya luas, asri, nyaman, serta memiliki lapangan terbuka yang mendukung aktivitas edukatif.Lingkungan yang terjaga adalah bagian dari penjagaan iman santri.Melalui kegiatan Rihlah Tarbawiyyah ini, diharapkan santri dan ustazah dapat rehat sejenak, menyegarkan jiwa dan raga, sekaligus menguatkan kembali semangat dan energi untuk melanjutkan perjalanan panjang sebagai penghafal Al-Qur’an. Semoga setiap langkah rihlah menjadi saksi kecintaan kita kepada Al-Qur’an.Ditulis di kantor ustadz, sudut Masjid Birrul WaalidainBersama sahabat seperjuanganBersama mendidik generasi Qur’an Semoga bersama, kita dikumpulkan di jinan. Tarok, 10 Februari 2026 jam 14:14

2 days ago | 6
Artikel

Generasi Rabbānī bil-Qur’ān wa Sunnatin Nabī Arah Tarbiyah dan Manhaj Pendidikan Ma’had

Generasi Rabbānī bil-Qur’ān wa Sunnatin NabīArah Tarbiyah dan Manhaj Pendidikan Ma’hadOleh: Ust. Abu Abdillah, Lc., S.Pd.Mudir ‘Ām Ma’had Tahfidzul Qur’an Zaid bin Tsabit Kota PayakumbuhGenerasi Rabbānī bil-Qur’ān wa Sunnatin Nabī bukan sekadar rangkaian kata dan bukan pula hiasan bahasa. Ia adalah slogan ma’had yang lahir dari perenungan yang mendalam, musyawarah yang serius, serta pertimbangan yang panjang. Dari sekian banyak ide dan usulan, kalimat inilah yang akhirnya dipilih—sebuah pilihan yang diusulkan oleh Mudir Ma’had, Ust. Sandi Pratama, S.Pd., hafizhahullāh—karena mengandung arah yang jelas, ruh perjuangan yang kuat, serta tujuan pendidikan yang lurus dan mendasar. Slogan ini bukan sekadar identitas lembaga, melainkan janji moral di hadapan Allah terhadap amanah generasi yang sedang dan akan dibina.Kalimat ini senantiasa menghiasi setiap video, flyer, dan spanduk ma’had. Namun hakikatnya, ia bukan sekadar slogan visual. Ia adalah identitas manhaj, kompas tarbiyah, dan ruh perjuangan yang ingin dihidupkan dalam setiap denyut pendidikan di ma’had. Ia menjadi pengingat bahwa pendidikan di ma’had ini bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan proses pembentukan manusia seutuhnya: manusia yang terikat dengan Rabb-nya, berjalan di atas wahyu, dan meneladani Nabi-Nya ﷺ. Karena itu, setiap kurikulum, metode, dan kebijakan pendidikan harus tunduk dan selaras dengan makna slogan ini.Makna Generasi: Harapan Umat di Masa PendidikanBerbicara tentang generasi, pada hakikatnya adalah berbicara tentang tunas-tunas muda harapan umat—anak-anak yang sedang berada pada fase pembentukan, fase pendidikan, dan fase penanaman nilai. Pada fase inilah fondasi iman, ilmu, adab, dan kepribadian ditanamkan secara mendasar. Apa yang ditanam hari ini akan menentukan arah perjalanan mereka di masa depan, bahkan menentukan wajah umat pada masa yang akan datang.Menurut KBBI, generasi (nomina) memiliki beberapa makna, di antaranya: sekelompok orang yang hidup pada masa yang sama, dengan rentang usia yang relatif berdekatan, seperti generasi muda dan generasi tua.Namun Islam memandang generasi dengan perspektif yang jauh lebih dalam, lebih menyeluruh, dan lebih bertanggung jawab. Dalam konteks pembahasan ini, yang dimaksud adalah generasi emas, yaitu generasi anak-anak, generasi awal yang sedang dibentuk dan kelak akan menentukan wajah umat di masa depan. Jika generasi ini dibina dengan benar, maka kebaikan akan mengalir panjang lintas zaman. Sebaliknya, jika diabaikan, kerusakan akan berlanjut dan diwariskan. Sejarah umat menjadi saksi bahwa kejayaan dan kehancuran selalu bermula dari kualitas generasi.Makna Generasi dalam Perspektif IslamDalam Islam, generasi bukan sekadar urutan usia atau perbedaan zaman. Generasi berkaitan erat dengan keimanan, ilmu, amal, dan manhaj hidup. Karena itu, pembinaan generasi tidak dapat dilepaskan dari akidah yang lurus dan tuntunan wahyu.Al-Qur’an dan Sunnah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap penyiapan generasi, agar mereka tumbuh menjadi generasi yang beraqidah benar, beriman kuat, berilmu benar, beribadah benar sesuai Sunnah, berakhlak mulia, beradab Islami, serta mampu memikul amanah agama.Allah ﷻ melarang kaum beriman meninggalkan keturunan yang lemah—baik lemah iman, lemah ilmu, maupun lemah akhlak. Inilah amanah besar yang wajib dipersiapkan, dibina, dan dijaga dengan penuh tanggung jawab dan rasa takut kepada Allah.Sebagaimana Allah ﷻ jelaskan dalam surat An-Nisā’ ayat 9:وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدًاArtinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”Ayat ini menjadi fondasi aqidah bagi seluruh konsep pendidikan generasi dalam Islam. Ayat ini menegaskan bahwa pendidikan generasi adalah tanggung jawab keimanan. Rasa takut terhadap masa depan anak menuntut kita untuk mendidik mereka dengan cara yang benar, jujur, dan bertakwa—bukan dengan kelalaian, apalagi penyimpangan dari tuntunan wahyu.Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan, ayat ini merupakan peringatan keras dan nasihat mendalam bagi siapa saja yang mengurus urusan anak-anak, generasi, dan masa depan umat.Makna dzurriyyatan dhi‘āfā mencakup: lemah iman dan akidah, lemah mental, lemah ibadah, lemah fisik, lemah ekonomi, serta lemah perlindungan dan kemampuan membela diri.Allah ﷻ mengingatkan kita semua akan bahaya generasi lemah di masa mendatang. Dari sinilah lahir kewajiban moral dan syar‘i untuk menjaga, membina, dan menguatkan generasi. Maka tugas pendidikan adalah mengubah kelemahan menjadi kekuatan dengan iman dan ilmu.Generasi adalah amanah besar dan sekaligus estafet perjuangan: penerus risalah, pewaris nilai, dan penentu masa depan umat. Jika satu generasi rusak, kerusakan itu akan menjalar dan sulit dihentikan. Namun jika satu generasi dibina dengan benar, ia akan menjadi sebab tegaknya kebaikan dalam jangka panjang.Karena itu, pendidikan bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk hari esok dan generasi setelahnya. Pendidikan adalah investasi akhirat yang buahnya sering kali baru dipetik setelah pendidiknya tiada. Kegagalan mendidik generasi pada hakikatnya adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah umat.Makna Rabbānī: Orientasi Hidup kepada AllahKata rabbānī adalah nisbah kepada Rabb—salah satu nama Allah—yang bermakna Rabb Yang Maha Mencipta, Maha Memelihara, Maha Mengatur, dan Maha Mendidik.Secara istilah syar‘i, rabbānī adalah hamba Allah yang berilmu, beramal, dan mendidik dengan ilmu, yang seluruh orientasi hidupnya tertuju kepada Allah Ta‘ālā. Ia tidak berhenti pada ilmu semata, tetapi mengamalkan ilmu, mengajarkan ilmu, dan membina manusia secara bertahap dengan kesabaran dan hikmah. Dengan demikian, rabbānī adalah identitas pendidik dan peserta didik sekaligus.Allah ﷻ menyebutkan sifat rabbānī dalam surat Āli ‘Imrān ayat 79:وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحُكْمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا۟ عِبَادًا لِّى مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَArtinya: “Tidak wajar bagi seorang manusia bahwa Allah memberikan kepadanya Kitab, hikmah, dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, ‘Jadilah kalian penyembahku selain Allah.’ Akan tetapi (dia berkata), ‘Jadilah kalian orang-orang rabbānī, karena kalian selalu mengajarkan Kitab dan karena kalian terus mempelajarinya.’”Di antara hikmah ayat ini adalah bahwa rabbānī bukan sekadar status keilmuan, tetapi peran tarbiyah. Ilmu yang tidak melahirkan pendidikan, keteladanan, dan pembinaan umat bukanlah sifat rabbānī. Generasi rabbānī lahir dari pengajaran dan pembelajaran yang istiqamah, berkesinambungan, dan berorientasi akhirat. Ayat ini sekaligus menolak model pendidikan yang melahirkan kesombongan intelektual.Bil-Qur’ān wa Sunnatin Nabī: Wahyu sebagai Sumber PendidikanInilah sumber pendidikan yang sesungguhnya: wahyu—bukan akal semata, bukan filsafat, dan bukan hasil karya manusia. Akal hanya berfungsi memahami wahyu, bukan menggantikannya; akal ditempatkan sebagai alat, bukan sumber hukum.Allah ﷻ mewajibkan seluruh kaum beriman kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah:فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِArtinya: “Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul…” (QS. An-Nisā’: 59)Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah adalah hakim tertinggi dalam pendidikan dan tarbiyah. Perselisihan akan sirna apabila wahyu dijadikan rujukan utama.Sebagaimana Allah ﷻ memerintahkan untuk mengikuti Rasul ﷺ:وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْArtinya: “Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka ambillah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Ḥasyr: 7)Meniti Jalan Salaf: Jalan Orang-Orang BerimanAllah ta’la berfirman : وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰArtinya: “Barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan ia dalam kesesatan yang dipilihnya.”(QS. An-Nisā’: 115)Sabīl al-Mu’minīn adalah jalan para Sahabat dan Salaf, generasi terbaik umat ini. Manhaj Salaf bukan mazhab baru, tetapi cara memahami wahyu dan cara beragama yang benar.Sunnah sebagai Penjaga dari KesesatanRasulullah ﷺ bersabda:تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِيArtinya: “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. Mālik no. 1594)Dan Nabi ﷺ juga mewajibkan untuk mengikuti Sunnah beliau dan Sunnah Khulafā’ Rāsyidīn:فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِArtinya: “Maka wajib atas kalian berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafā’ Rāsyidīn yang mendapat petunjuk sepeninggalku. Peganglah ia erat-erat.”(HR. Abu Dāwud dan At-Tirmiżī)Mengapa dengan Pemahaman SalafMengapa harus dengan pemahaman Salaf? Karena Salaf adalah sebaik-baik generasi, hidup di zaman Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ adalah guru mereka.خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْArtinya: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perkara ini ditegaskan pula oleh perkataan para Salaf:اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ“Ikutilah dan janganlah kalian berbuat bid‘ah, sungguh kalian telah dicukupkan.”(Abdullah bin Mas‘ūd رضي الله عنه)لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki generasi awalnya.”(Imam Mālik رحمه الله)اصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ، وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ“Bersabarlah engkau di atas Sunnah, dan berhentilah di batasan tempat kaum Salaf berhenti.”(Imam Al-Awzā‘ī رحمه الله)Inilah rantai emas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama‘ah.PenutupMaka, tidak akan berhasil sebuah pendidikan, tidak akan kokoh sebuah tarbiyah, dan tidak akan lahir generasi yang kuat, kecuali dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai manhaj Salaf.Generasi Rabbānī bil-Qur’ān wa Sunnatin Nabī adalah doa, harapan, dan komitmen—agar lahir generasi yang hidup untuk Allah, berjalan di atas wahyu, dan menjadi cahaya bagi umat.Ditulis di sudut sekolahDi kampus yang semoga BarokahSemoga disini lahir generasi RobbaniBilquran dan sunnatin nabiTarok, 10 Februari 202617.38 WIB

2 days ago | 6
Artikel

Pesan Syaikh Sudais atas Datangnya Bulan Ramadhan

Berbekal ketulusan hati, Kepala Urusan Agama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Syaikh Dr. Abdurrahman As‑Sudais, menyampaikan ucapan selamat kepada Khadimul Haramain, Raja Salman bin Abdul Aziz Alu Saud serta Putra Mahkota, Pangeran Muhammad bin Salman—semoga Allah melindungi keduanya—atas tibanya bulan Ramadhan yang penuh berkah.Beliau memohon agar Allah menerima segala amal shalih yang dipersembahkan, seraya menegaskan bahwa bulan suci ini menghidupkan rasa kasih sayang dan keakraban, mewujudkan nilai‑nilai kebersamaan dan solidaritas, serta melukiskan ketulusan dalam bekerja, memberi dan berbagi.

3 days ago | 13
Al-Quran

Syaikh Shalih Fawzan: Keistimewaan Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al-Quran

Mufti Agung Arab Saudi yang juga Ketua Hai`ah Kibar Ulama, Syaikh Shalih Al-Fawzan, menyampaikan ucapan selamat kepada Khadimul Haramain, Raja Salman bin Abdul Aziz Alu Saud, juga Putra Mahkota dan Perdana Menteri, Muhammad bin Salman, atas tibanya bulan suci Ramadhan.Dalam pernyataannya, beliau mengungkapkan bahwa Allah Ta’ala menganugerahkan beragam ibadah agar hamba-hamba‑Nya bisa mendekat kepada‑Nya. Pahala mereka dilipatgandakan, dosa-dosa mereka terhapus, dan mereka memperoleh ridha serta surga‑Nya.Salah satu musim ibadah yang agung ini adalah bulan Ramadhan. Allah berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan ketika Al‑Qur`an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, serta penjelasan-penjelasan tentang petunjuk dan pembeda. Maka barang siapa di antara kalian menyaksikan bulan itu, hendaklah ia berpuasa. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan, maka (boleh menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu, dan agar kamu menyempurnakan bilangan, serta mengagungkan Allah atas petunjuk‑Nya kepadamu, dan supaya kamu bersyukur.” [Al-Baqarah: 185]Syaikh Shalih menambahkan, salah satu keistimewaan bulan mulia ini adalah diturunkannya Al‑Qur`an di dalamnya. Karena itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperbanyak tilawah Al‑Qur`an di bulan ini lebih dari bulan-bulan lainnya.Para sahabat dan generasi salaf pun mengikuti jejak beliau, tenggelam dalam bacaan Al‑Qur`an saat Ramadhan. Inilah bulan Al‑Qur`an dan bulan puasa, sebab Allah menjadikan puasanya sebagai kewajiban dan salah satu rukun Islam, sebagaimana firman‑Nya: “Maka barang siapa di antara kalian menyaksikan bulan itu hendaklah ia berpuasa.” [Al-Baqarah: 185]Beliau melanjutkan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan puasa Ramadhan sebagai salah satu dari lima pilar Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Islam dibangun atas lima perkara: syahadat bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah bagi yang mampu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]Beliau juga mensyariatkan qiyam Ramadhan dengan sabdanya: “Barang siapa menegakkan (shalat malam) Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]Terakhir, Syaikh Shalih mengingatkan, “Bulan yang mulia ini — wahai kaum Muslimin — pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Karena itu, marilah kita giatkan amal shalih: shalat, zakat, sedekah, dan kebaikan lainnya, memperbanyak tilawah Al‑Qur`an, dzikir, dan doa.”Beliau juga berpesan agar menjauh dari kemaksiatan dan dosa, serta bertakwa kepada Allah selama bulan ini. Ramadhan adalah bulan kebaikan, kemurahan, dan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang‑orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” [Al-Baqarah: 183]

4 days ago | 17
Nasional

Arab Saudi Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada Rabu 18 Februari 2026

Kerajaan Arab Saudi melalui Mahkamah Agung Kerajaan menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Hari Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini diambil setelah hilal berhasil dilihat di wilayah Sudair dan Tumair pada Selasa waktu maghrib, 17 Februari 2026. Sebelumnya, Mahkamah Agung Kerajaan telah menyerukan kepada warga Saudi untuk melakukan Rukyatul Hilal untuk menetapkan masuknya awal bulan Ramadhan pada tahun ini. Berdasarkan seruan itu, siapapun yang berhasil melihat hilal, untuk memberikan laporan resmi dan diambil sumpahnya oleh Mahkamah Agung Kerajaan. "Mahkamah Agung telah mengesahkan hasil penglihatan hilal dan mengumumkan bahwa Rabu, 18 Februari 2026 adalah 1 Ramadhan 1447 H," tulis laporan resmi Mahkamah Agung Kerajaan seperti dilansir dari Saudi Pres Agency, Selasa, 17 Februari 2026. Dengan demikian, Penetapan awal Ramadhan pada tahun ini terjadi perbedaan antara Pemerintah Indonesia dengan Kerajaan Arab Saudi. Sebelumnya, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama RI telah menetapkan 1 Ramadhan 1445 H jatuh pada Hari Kamis, 19 Februari 2026 melalui melalui Sidang Isbat setelah hilal tidak berhasil dilihat di seluruh wilayah Indonesia.

5 days ago | 15
Nasional

Breaking News! Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 2026 Jatuh pada 19 Februari 2026

Pemerintah resmi menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diumumkan usai sidang isbat yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (17/2/2026), dan dihadiri berbagai unsur lembaga negara serta organisasi kemasyarakatan Islam. Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menyampaikan bahwa hasil sidang isbat telah disepakati bersama. “Sidang isbat telah selesai dilaksanakan. Disepakati bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” ujarnya dalam konferensi pers usai sidang. Sidang isbat tersebut melibatkan berbagai pihak, di antaranya Komisi VIII DPR RI, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Observatorium Bosscha, Planetarium Jakarta, Badan Informasi Geospasial, perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam, pondok pesantren, serta Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama. Keterlibatan berbagai lembaga tersebut menunjukkan bahwa penetapan awal Ramadhan dilakukan melalui pendekatan kolektif, ilmiah, dan berbasis kajian astronomi serta pertimbangan fikih. Namun demikian, keputusan pemerintah berbeda dengan ketetapan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sebelumnya telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026. Muhammadiyah menggunakan metode hisab murni dengan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang menganut prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia. Perbedaan awal Ramadhan tersebut muncul akibat perbedaan metodologi dan kerangka fikih yang digunakan. Meski sama-sama berlandaskan perhitungan astronomi, sistem penetapan yang dipakai memiliki pendekatan berbeda antara metode hisab global dan mekanisme sidang isbat pemerintah yang menggabungkan hisab dan rukyat.

5 days ago | 10

Jadwal Sholat

Payakumbuh

Memuat tanggal...

00:00:00

Waktu Indonesia Barat

Subuh --:--
Dzuhur --:--
Ashar --:--
Maghrib --:--
Isya --:--

Video Stories

Lihat Galeri